Showing posts with label Event. Show all posts
Showing posts with label Event. Show all posts

Wednesday, July 9, 2014

Hari Pencoblosan

Hari yang ditunggu oleh segenap anak bangsa akhirnya tiba juga. Hari pencoblosan! Banyak orang menantikan momen ini. Banyak warga negara yang tadinya malas mencoblos 'memutuskan turun gunung.' Apakah saya pernah golput alias tidak mencoblos? Saya tidak ingat. Rasanya sejak kerusuhan Mei 1998 dan presiden yang gonta-ganti saya sedikit lupa, apa saja partisipasi saya terhadap negara? Yang pasti sejak menikah, sejak era SBY, saya mulai rajin mencoblos calon pemimpin negara. Saya berpikir bahwa amanah atau tidaknya pemimpin itu adalah dosa dan amal yang ditanggung oleh mereka. Bukan urusan saya! Tetapi sebagai warga negara, apakah saya sudah berusaha aktif dalam berpartisipasi? Iya! Saya ingin memberi contoh pada putri saya. Tidak mau menjadi warga negara yang asal-asalan numpang urip. Ngomelnya banyak, ngeluhnya bejibun, pandai mengoreksi pemerintah, partisipasi NOL! Hei, saya mau Indonesia baru yang lebih baik! Untuk saya dan Anda juga.

Karena tidak terdaftar di DPT, kami datang jam sebelas siang. Mencoblos dengan menggunakan KTP. Entah kekeliruan administrasi atau perihal apa? Sudah dua kali pencoblosan, pileg April 2014 dan pilpres Juli 2014 ini, kami tidak dimasukkan dalam DPT. Padahal kami berdomisili di tempat ini sudah 14 tahun lamanya. #Tanya kenapa? Saya malas cerewet, namun kami melakukan apa yang kami bisa. Kami mendaftar sebagai pemilih dengan KTP. Untungnya selama dua kali pencoblosan tahun ini, selalu tidak ada kesulitan yang berarti. Para pengurus TPS yang sebagian juga pengurus RT dan RW cukup mengenal kami. Mereka tidak berbelit dalam memberikan hak kami untuk mencoblos. Kegiatan yang buat kami menyenangkan. Kami ini tidak bisa menjadi caleg, boro-boro! Tidak ada dana dan ragu jika prosesnya tidak membawa kebaikan namun justru menjadi mudharat. Akan sangat menakutkan ganjarannya dunia-akherat. Namun untuk memberikan suara bagi pemimpin atau calon legislatif, tentu merupakan sebuah kesempatan baik untuk berpartisipasi bagi kemajuan negara. Amanah tidaknya, lagi-lagi berpulang pada pribadi si pengemban amanah.

Jam 11.45 siang kami tiba di lokasi. Cukup panas dan banyak orang menanti giliran namun tidak berjubel. Semua teratur dan dapat jatahnya masing-masing. Seorang anak muda ngotot ingin mencoblos meskipun kertas daftar KTP habis, ia bela-belain memfoto-copynya agar mendapat surat suara. Bagus anak muda! Sebuah keluarga membawa bayi dan bahkan sempat membeli balon antariksa bagi bayinya. Seorang ibu belum pernah mencoblos, setelah mendapat kertas suara ia langsung pergi. Beberapa orang berteriak, "Bu, jangan dibawa pulang! Nyoblosnya di bilik sana!.." Semua orang tertawa, "Gerrr.." Belum pernah nyoblos rupanya. Lalu adik ibu itu muncul dengan pacarnya yang bule. Si Bule bersemangat sekali meneliti TPS seolah kandang dinosaurus. Mungkin dia heran. Di abad internet, negara berpenduduk dua ratus juta orang lebih, meminta penduduknya mencoblos di kotak-kotak aneh dan dimasukkan kotak celengan yang sangat aneh, ukuran wadah krupuk raksasa! Ha-ha! Tapi si bule gembira sekali, ia meminta ikut dengan kekasihnya ke bilik pencoblosan. Bahkan turut serta mencelupkan jemari pada wadah bertinta. Barangkali kini ia tahu, 'Betapa bahagianya menjadi penduduk negara berkembang seperti Indonesia. Yang rakyatnya serba jadoel, sabar, nerimo, mengelus dada,...'

Pola-pola perilaku manusia terus berlanjut. Sebuah keluarga datang. Pak RT mengomel, "Anda sekeluarga pindah. Tidak memberikan info apapun juga. Ini ada undangan pencoblosan. Kami jadi tak tahu kemana harus mengantar? Sekarang kalian datang mendadak pula,...." Mereka terdiam. Keluarga lugu. Tipikal birokrasi di tanah air seperti tumbu entuk tutup, tempayan dengan penutupnya. Klop! Birokrasinya rumit dan orang-orang juga teledor, tidak disiplin, serta malas mengurus persyaratan yang berbelit. Kejadian lain lagi sepasang pasutri bolak-balik dipanggil oleh petugas TPS tidak muncul juga. Apalagi nama sang suami unik, "IVAN AFFAN GUNAWAN." Untuk sejenak para petugas ingin memanggilnya "IVAN GUNAWAN", namun tidak jadi, malah tertawa karena mengingatkan mereka pada salah satu artis tanah air yang namanya sama. Akhirnya kedua orang pasutri muncul setelah dipanggil berkali-kali. Rupanya pulang atau entah berbelanja kemana. Astaga,.. meliwatkan waktu di TPS saja tak sabar, padahal mencoblos hanya lima tahun sekali. Bagaimana jika tiap minggu?

Terakhir muncul seorang bapak dengan modal KTP, nekad ingin minta surat suara. Waktu sudah terlewat jauh. Petugas kemudian menjawab bahwa kertas formulir daftar KTP habis, kalau bisa si bapak memfotocopy KTP-nya saja. Si bapak lalu menyindir, "Oh,... jadi sekarang dipersulit ya?" Si petugas TPS tidak mau dipersalahkan, "Pak, kami bukan mempersulit tetapi ada prosedur yang harus dipatuhi. Silahkan dibaca dipapan pengumuman." Bapak itu digiring ke papan pengumuman oleh satpam. Lalu pergi entah kemana. Suaranya juga lenyap bersama angin. Kurang akomodatif. Seorang gadis bersikeras, "Pada pileg lalu saya mencoblos disini." Petugas TPS menjawab, "Yang lalu iya, kertas suara masih banyak. Kali ini persediaan terbatas. Yang sudah berlalu, ya tidak bisa disamakan dengan sekarang. Silahkan cari TPS lain yang terdekat." Lalu para petugas sedikit menggerundel, "Kami ini kan kerja sosial, bukan pekerjaan yang khusus,..." Hmmm,..tipikal lagi. Kerja tanpa keikhlasan. Saya mengerti panas, lelah dan mengurusi warga yang rewel, apalagi bulan ramadhan sambil berpuasa. Tantangannya seperti apa? Apakah ada honornya? Sekalipun ada seberapa besar sih? Sikap! Jika dituntun agama dan berdoa sebelum melakukannya, mungkin sabar, adem dan bahagia akan mewarnai kinerja. Disisi sebaliknya layanan yang baik dan ikhlas akan mengundang rasa syukur dan terima-kasih warga. 

Rupanya Bapak RT kami memiliki seorang anak berkebutuhan khusus. Usianya kira-kira lima belas tahun. Remaja ini berlarian kesana-kemari dan menjerit-jerit gembira. Saya tak yakin ia mengerti arti pesta demokrasi, namun ia meramaikan siang itu dengan keunikannya. Saking sibuknya sang ayah dan para rekan, tidak ada yang melihat ketika anak ini mencuri sebuah surat suara dan berniat memasukkannya ke 'kaleng krupuk' andalan tanah air. Kami semua menjerit-jerit, "Waduh itu anak melakukan apa, ngaco..." Ayahnya lebih kencang menjerit, merebut surat suara dan menggiring sang anak pulang. Anak itu penggembira politik dan ayahnya pahlwan relawan yang mengurus kebutuhan kami semua di TPS. Pegawai pemerintahan, birokrasi apapun seolah mendapat stempel, 'Patut dicurigai kinerjanya.' Setelah selesai menunaikan tugas sebagai pemilih, saya pulang bersama suami. Dalam perjalanan saya berpikir, ini adalah pesta - pesta kecil demokrasi. Yang jika dijumlah di segenap penjuru tanah-air akan menjadi suatu pesta besar. Janganlah dinodai dengan ambisi segelintir orang yang gila harta dan tahta! Begini saja saya cukup gembira, tapi bukan berarti kami tidak berhak untuk hidup lebih baik lagi. Akh,..saya dan suami hanyalah rakyat jelata, yang masih berusaha menyemaikan harapan.

Tuesday, July 8, 2014

Pemimpin Yang Amanah

Beberapa kali saya menuliskan sesuatu di halaman blog ini. Bolak - balik hingga tiga kali saya batal menuliskannya. Delete! Kenapa? Saya menafikan suara hati. Karena menulis tanpa gaung nurani akan terasa hambar. Itu bagi saya. Entah bagi penulis lainnya. Saya memiliki suatu hal yang ada di kepala dan ingin saya kemukakan. Hanya saja lagi-lagi saya menafikan suara hati. Kok ngomongin politik melulu? Mendadak gemar politik gitu? Saya berusaha melawan kehendak hati yang ingin menuliskan tentang sosok Joko Widodo. Saya pikir, saya sudah terlalu banyak memberikan porsi penulisan tentang copras-capres. Buat saya ini keluar dari zona nyaman, karena biasanya yang saya tuliskan hanya hal-hal sederhana.

Menulis politik atau perpolitikan bukan dunia saya. Dibayar berapapun, saya mungkin pikir-pikir karena jika tak ada ide atau tak sepakat saya hanya akan menulis dengan gaya tong kosong nyaring bunyinya. Sosok Joko Widodo itu jika saya jumpai di tahun 80-an semasa saya bersekolah, seandainya ia pun sudah menjadi capres kala itu, mungkin saya juga takkan perduli. Pertama, saya masih kanak-kanak dan remaja, apa sih yang saya tahu? Kedua, memangnya ada calon presiden lain kala itu? Ups! Seingat saya tidak ada. Dengan segala hormat tentu ada sisi 'kebapakan' Presiden Soeharto yang saya sukai. Saya lahir dan besar di era Soeharto. Jadi pandangan saya muda dan naif tentang pucuk pimpinan negeri, saya tidak punya gagasan. Harus seperti apa orangnya? Yang saya tahu hanyalah 'the smiling general' alias Pak Harto. Jujur karena saya juga tidak memiliki ayah ketika kecil, figur Pak Harto menjadi figur kebapakan yang saya sukai. 

Bumi berputar, saya bukan lagi remaja apalagi kanak-kanak. Sebagian kotak pandora terbuka. Saya kini tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Kecewa tentu saja, sosok kebapakan yang saya idolakan ternyata jadi cerita kelabu matinya demokrasi. Sering bertanya dalam hati? Bagaimana mungkin sosok yang begitu murah senyum menyembunyikan berbagai cerita? Saya harus belajar lagi terus-menerus tentang orang-orang yang mampu mengatur sosok dan penampilannya hingga mencitrakan sesuatu. Itulah yang disebut pencitraan. Maka ketika era Soeharto goncang, saya lagi-lagi masih tak punya nalar. Segenting itukah keadaan tampuk kepemimpinan sehingga digoyang bubar dan digantikan oleh beberapa pemimpin berikutnya yang juga terus-menerus digoyang? Yang saya lihat, keadaan tidak membaik juga. Sehingga muncul jargon, 'Piye kabare, iseh enak jamanku tho?' The smiling general menyapa kami semua melalui stiker bergambar wajahnya. Kadang saya memandang wajah itu dan menghela nafas,...

Proses perjalanan bangsa yang besar ternyata memang tak dapat terjadi begitu saja. Dengan satu jentikan jari lalu semua beres. Dengan satu reformasi lalu semua beres. Dengan pergantian pimpinan lalu semua beres. Ini tidak! Semua terjadi berlarut-larut. Lepas dari era orde baru, reformasi mengantar rakyat Indonesia melalui jalan bagaikan jalan raya Pantura yang bolong berlubang, macet, terguncang-guncang dalam perjalanan dan sebagainya. Lama nian, kami melalui jalan yang demikian berliku. Banyak sosok yang muncul dan digadang-gadangkan sebagai pimpinan. Namun pada masa-masa awal reformasi, rakyat keburu tak sabar. Presiden bergantian dalam masa-masa tampuk pemerintahan yang serba singkat dan tersendat. Sampai akhirnya tiba era Pak SBY yang diyakini mampu membawa perubahan baik. Sepuluh tahun rakyat Indonesia dipimpin olehnya. Dan kini tibalah saatnya kami memilih pemimpin baru.

Saya tak dapat berkomentar terbuka mengenai hasil pembangunan yang dilakukan oleh Pak SBY. Rakyat dapat menilainya sendiri. Saya memandang Bung Karno, Pak Soeharto, BJ Habibie, Gusdur, Ibu Megawati dan Pak SBY, yang sempat memegang tampuk pimpinan negeri adalah Bapak/Ibu bangsa. Tidak boleh kita mencaci saja, tentu ada nilai positif yang telah mereka perbuat bagi negeri ini. Orang-orang lebih mudah melihat coreng arang di wajah, ketimbang senyum tulus yang pernah muncul dari wajah itu sendiri. Ada jatah takdir mengapa mereka yang 'mampir' satu-persatu jadi pimpinan negeri ini. Kiprah sejarah bukanlah manusia yang mampu mengatur alur ceritanya, namun Tuhan sendiri yang membuat sketsa. Wahai bangsa engkau akan mengalami perjalanan panjang dan untuk tinggal landas. Banyak persiapan yang harus kaulakukan. Bersabarlah, mungkin seperti itu bisikan Sang Maha Mengetahui. Tetapi kami terlalu sibuk bertikai dan menyalahkan satu dengan yang lainnya. Kami semua terseok-seok.

Di usia yang tidak lagi remaja, kanak-kanak atau muda belia; saya mulai mengerti arti sebuah perjalanan di kehidupan. Maka saya mengerti kemarahan-kemarahan yang ditujukan kepada pemimpin suatu bangsa. Pemimpin yang dianggap lalai dan tidak mengemban amanahnya. Hanya memikirkan diri sendiri saja. Sungguh-sungguh menjadi pencitraan yang melelahkan bagi rakyat. Karena yang dicintai hanyalah diri sendiri dan kerabat atau kawan - kawannya saja. Padahal pemimpin negara itu amanah mulia yang tidak main-main dalam melaksanakan tugas kepemimpinan. Pada hakekatnya dua ratus juta lebih nyawa tergantung pada kemahiran seseorang untuk memimpin mereka. Dan ini bentuknya seperti piramida yang saling mendukung membentuk kekuatan dari bawah ke atas. Rakyat dalam aneka profesi, perkumpulan atau organisasi, perusahaan atau korporasi, wilayah dan letak geografis, lalu kantor-kantor pusat dan pejabat-pejabat tertinggi. Hingga akhirnya seorang pemimpin negara duduk di ujung piramida dan mengatur instruksi semua susunan puzzle balok-balok yang ada dibawahnya agar pas dan kokoh. Seperti itu seharusnya!

Kini, separuh dari perjalanan usia, saya anggap melenceng jauh dari harapan saya sebagai rakyat Indonesia. Sebagai warga negara Indonesia. Kecewa tentu saja, karena negara tidak mengayomi hingga ke segala penjuru negeri, pada akar rumput. Sebutan akar rumput hanya muncul manakala dibutuhkan suaranya. Kecewa karena kepentingan saya sebagai rakyat jelata diabaikan dan tak tersentuh keadilan. Seolah segala lapis permasalahan yang ada diatas permasalahan saya, pasti lebih penting. Dan saya tidak sendiri, ada buruh, petani, nelayan, karyawan kecil, guru, tukang beca, tukang bangunan dan sebagainya. Lapisan - lapisan terbawah dan urat yang paling sensitif dari suatu negara selama puluhan tahun tak tersentuh keadilan. Akar rumput nyaris meranggas. Kini saya mengerti mengapa orang tak boleh terpesona pada senyum dan sekedar janji. Karena itu sekarang saya akan memilih pemimpin, yang saya anggap bukan pengobral senyum dan sembarang janji. Tuhan, tunjukkanlah jika memang Jokowi-Jeka orangnya! Selamat menyoblos,...

Sunday, July 6, 2014

Gile Lu, Ndro...

foto: twicsy
Celetukan 'Gile Lu Ndro'... sempat tenar dikisaran tahun 80-an. Ketika film-film warkop prambors merajai sinema Indonesia. Komentar para personilnya yang terdiri dari Kasino, Dono dan Indro sangat menggelitik, kocak. Biasanya kalau yang lain protes, ditujukan kepada Indro. Yang selalu kebagian peran pemuda ganteng, intelek dan siap sedia bela sahabat. Sahabat-sahabatnya adalah muka bemo, si Dono dan muka ndeso si Kasino. Tapi tiga-tiganya sama pedenya dalam melakoni hidup. Apalagi masalah pendekatan pada cewek. Mereka selalu berlomba-lomba dan terlibat situasi konyol. Tampilan fisik bukan halangan untuk rasa percaya diri.

POLITIK JADI AGENDA BARU RAKYAT

Jaman sekarang, jamannya orang muda atau orang yang buta politik mulai melek, ngurusin politik. Gile lu, Ndro,.. Demikian komentar saya barangkali jika teman - teman mengajak sibuk mengurusi politik. Ini kolom koran yang tak pernah saya tengok, pembicaraan yang membuat saya terkapar mengantuk dan perdebatan yang membuat saya ingin langsung menyetel musik daripada mendengarnya. Bohong-bual-basi. Itu pendapat saya tentang dunia politik selama ini. Yang menggemari, monggo silahkan. Saya merasa politik di tanah air hanya pepesan kosong saja, jadi penggemar politik namun tidak akan bisa nyaleg atau nyapres. Lha wong, bokek nggak punya duit! Sok ikutan sibuk ngurus politik? Mending dagang di pasar, jual tahu atau sayur, pasti lebih produktif daripada membual masalah politik!

Masalah politik berubah menjadi torpedo besar yang memporak-porandakan tanah air ketika seorang bekas Walikota Solo nan sederhana mendadak masuk bursa Capres. Gile lu, Ndro? Atau Gile lu, Jok?.. Barangkali komentar itu akan dilayangkan oleh kawan-kawan dekat sang capres nomor 2, Joko Widodo yang kerap disebut JOKOWI. Jadi capres nggak modal duit, nggak model tongkrongan keren. Jujur, Jokowi bahkan mungkin akan melengkapi formasi Warkop Prambors lebih baik ketimbang menjadi Capres Indonesia. Wajahnya yang 'ndeso membuat orang berkomentar nggak salah pilih, haruskah orang ini? Orang ingin presiden Indonesia yang ganteng, gagah-perkasa, intelek, cerdas cendikia, bijaksana, lembut mempesona. Sesungguhnya semua sudah dicoba oleh rakyat Indonesia. Yang belum hanyalah presiden yang sederhana. Seseorang yang biasa lalu-lalang disekitar kita, namun sungguh bekerja bukan hanya omong besar atau numpang lewat memperkaya dinasti. JOKOWI ADALAH KITA. Seorang lelaki yang sederhana, mampu menggerakkan jutaan rakyat Indonesia yang kembali menanam benih harapan bahwa mereka semua akan terangkat derajadnya lebih baik lagi. Harapan yang disemaikan di ladang baru sangat membangun semangat kebangsaan.

foto: kabarnet
Kapan lagi ada calon presiden seperti ini? Orang yang busananya apa adanya tidak banyak ornamen aksi. Wajahnya Indonesia banget namun mengaku otak skala internasional, dan memang terbukti oleh prestasinya. Selalu turun dan menyapa semua lapisan masyarakat. Yang paling sering dikunjungi olehnya bukan orang-orang kaya yang punya kuasa tetapi rakyat kecil yang sederhana. Orang-orang yang terpinggirkan, semuanya didekati dan dirangkul olehnya. Ia ingin tahu apa yang dapat dilakukannya untuk membantu mereka. Itupun membuat ia banyak diserang selaku orang yang penuh kepura-puraan, pencitraan dan sebagainya. Padahal tujuannya hanya satu, dalam skala besar ia harus mengerti juga semua detail kecil yang tersebar. Menjadi pemimpin memang bukan duduk di kursi empuk dan perintah sana sini tanpa tahu permasalahan dengan baik. Itu yang terjadi selama ini di tanah air.

PEMIMPIN SKALA BESAR DAN PAHAM DETAIL KECIL

Menjadi pemimpin harus memahami detail kecil di segala penjuru tanah-air. Mengerjakan pekerjaan rumah-nya dengan baik. Ibarat laba-laba raksasa yang akan membangun jaring kekuatan, ia harus mengukur jarak, ketebalan benang dan pola anyaman. Demikian nantinya ketika ia mendapat mandat, setidaknya ia akan tahu bagaimana membuat jaring yang dibutuhkan untuk melindungi rakyatnya. Ia akan menggunakan perpanjangan tangan yang kompeten, mentri-mentri, kepala divisi dan semua jajaran birokrasi yang bergerak sinergis, cepat dan terarah. Karena bangsa kita sudah sangat tertinggal jauh oleh negara tetangga. Jangan lagi kumpulan orang yang malas, aji mumpung, hobby ngutil alias korupsi dan bekerja asal-asalan masuk ke dalam jajaran pasukan yang akan memajukan tanah air. Never again!

Seorang Jokowi membuat masyarakat banyak mulai membangun mimpi. Saya dan teman-teman kampus/SMA tadinya hanya gemar membahas hal-hal tak penting. Seperti cuaca, liburan dan tempat belanja, kini punya topik pembicaraan baru, POLITIK. Tadinya politik itu bikin demam dan seperti virus penyakit yang menakutkan. Perlahan namun pasti misteri - misteri yang melingkupinya tersibak. Apa dan siapa? Mengerjakan apa? Indikasi keberhasilannya dimana? Kegagalannya mengapa? Mentri mana yang benar - benar moncer bak bintang kejora? Mentri mana yang 'gila lu Ndro -- situ kok bisa jadi mentri? Membuat rakyat seperti saya dan kawan - kawan tergerak hatinya. Kalau seperti itu saja gaya bekerjanya, lebih baik diberikan pada kami posisi tersebut! Banyak orang yang ingin kaya, tetapi lebih banyak orang yang sadar bahwa kaya tidak jatuh dari langit. Seharusnya kerja keras diimbangi dengan hasil kerja yang maksimal dan ganjaran yang setimpal. Bukan dikacaukan dengan ganjaran setimpal, kerja asal-asalan dan hasil ala kadarnya. Alasannya? Tokh, rakyat tidak tahu! Dengkulmu!

Beberapa penampilan tokoh politik dan pembesar di tanah-air seolah melecehkan tingkat intelegensi rakyat seperti kami-kami ini. Seorang Joko Widodo justru membuat gelegar halilintar. Dimana jutaan rakyat yang tadinya letih lesu secara massal, mendadak bergejolak memilih gelombang besar untuk perubahan. Ingin berubah, ingin segera berubah. Penganiayaan yang dialami rakyat tidak hanya petani, nelayan, buruh. Bahkan karyawan perkantoran seperti sebagian besar dari kami masih saja terzolimi dengan aturan yang tak jelas, metode pengawasan yang sama sekali tidak ada. Korporasi-korporasi besar memainkan peran raja kecil penuh kewenangan, take it or leave it! Tidak usah repot dengan loyalitas. Sementara di kalangan profesional persaingannya juga kian ketat, tidak sekedar pro, kadang kemahiran bulus untuk bicara dan nego menjadi kekuatan. Bukan lagi masalah baik-buruk tetapi si kuatlah yang menang!

POLITIK DIANTARA ANDA DAN SAYA

foto: tempo
Gile lu Ndro,..Panjang bener saya bicara masalah politik? Baru kali ini, sekali - kalinya saya membumbungkan harapan setinggi langit bagi seorang pemimpin di tanah air. Baru kali ini saya dan teman kuliah saya, Luzy coba-coba membangun mimpi. "Kalau nggak pakai duit, kami ingin sekali turut berperan-serta dalam dewan." Luzy lalu menyampaikan keinginannya. "Aku ingin di komisi yang mengurus pariwista." Ujarnya. Seolah-olah kami kembali kemasa kecil ketika ditanya ingin jadi apa? Aku ingin  jadi dokter! Dan saya dengan berceloteh tak kalah semangat, "Aku ingin kerja di komisi pendidikan. Karena aku ingin  semua anak-anak baik, terdidik, santun. Pokoknya bikin bangga bangsa."..Wouw...dengan mudahnya kami melempar cita-cita pada pengembangan bidang-bidang yang kami minati. Sama seperti tokoh yang kami kagumi Joko Widodo, kami hanya ingin gaji yang cukup. Pas dengan kerja kami. Bukan yang mewah, karena keluarga dan kebahagiaan adalah kemewahan kami sesungguhnya. Kami tidak suka patpat-gulipat karena kami bukan kelinci lompat yang siap dipenggal jika keadaan mendesak, atas nama korupsi dan manipulasi.

Orang malas, banyak jumlahnya. Orang culas tersebar dimana-mana. Tapi itu bukan berarti tidak ada orang yang baik, penolong dan setia kepada ajaran Tuhan. Yang hanya takut pada hukum surga dan neraka. Yang tidak sekedar sibuk mengais kenikmatan dunia. Manusia yang merasa cukup akan selalu dicukupkan hidupnya. Sebaliknya manusia yang tak tahu diri akan selalu merasa kurang, berhak mengebiri orang lain dan bahkan mengorbankan mereka. Gile lu Ndro,... masih banyak orang baik yang kini sudah menjerit, tak tahan oleh ketidakadilan. Kami bukan menyerang, tetapi kami mempertahankan kebenaran. The new wave is coming. Salam dua jari!