Wednesday, August 5, 2015

Kesaksian Paradiso

Kemarin itu ada yang meminta saya untuk wawancara sebuah keluarga. Yang meminta adalah rekan senior dari majalah gereja. Kalau wartawan lain panas-panasan dan dusel-duselan buat cari berita. Saya yang 'dipaksa' jadi wartawan manjanya minta ampun. Ke tempat orang yang diwawancara minta dianter sama senior saya dan putri saya. Udah gitu saya mengeluh, "Aduh saya belum pernah mewawancara orang. Bagaimana caranya? Lalu yang harus ditanyakan apa? Orangnya saja saya nggak kenal. Bagaimana mungkin saya bisa menuliskan tentang mereka. Saya lebih suka menulis riset atau fiksi atau yang nggak perlu 'connect' harus ada hubungan batin dengan subject yang diwawancara. Takut nggak bisa!" Wah, pokoknya kalau semisal saya bekerja di media massa, baru masuk dua hari pasti langsung dipecat. Saking bekerja maunya dimanjain kaya putri-putri, minta dijemput dari depan rumah dan nanti diantarkan lagi ke depan rumah. Cape deh!

Nyampe juga akhirnya saya di rumah orang yang mau diwawancara itu. Ini pengalaman saya pertama kali wawancara dan langsung dituliskan. Teman-teman di majalah suka dengan cara menulis saya yang mengalir saja, nggak njlimet. Senior saya rata-rata berpendidikan seminari/filsafat jadi bahasanya kelas dewa yang saya sendiri nggak bisa paham (karena otak saya dangkal. wait! sebenernya saya nggak bodoh, cuma kadang malas mikir. Ha-ha!). Udah nyampe rumahnya enak banget. Bersih, rapi dan keren. Suami-istri pekerja kantoran dan punya dua anak remaja lelaki. Ternyata keduanya pendidik. Semuanya bekerja di sekolah swasta ternama. Anak-anaknya juga sopan dan menyenangkan. Lalu karena pasutri ini guru atau pendidik yang dua-duanya sudah senior tentu saja keduanya sangat sopan dan gaya bahasanya resmi/formal. Percakapan mengalir perlahan pada kesibukan mereka sebagai guru. Tambah lagi fakta, keluarga ini aktif dalam kegiatan rohani/gereja. Pasutri dua-duanya rajin di paduan suara, perkumpulan doa dan anak-anaknya sebagai asisten romo pastur di altar. Kisah hidupnya yang diceritakan serba menyenangkan, sampai saya heran. Ini keluarga kok happy banget? Kayak kisah disney yang berakhir bahagia, happily everafter. Enak bener? 

Saya mulai 'agak sirik'. Bukan berarti iri atau gimana. Cuman saya mikir, mana ada sih yang kayak gini? Suami sayang banget sama istrinya. Lalu istrinya memuji suaminya itu sabar dan rela bekerja tanpa rasa lelah cari nafkah, berkegiatan sosial/komunitas maupun membantu di rumah tangga. Anak-anaknya juga katanya prestasinya bagus dan nurut sama ortunya. Hebat bener! Lalu sebuah BOM DIJATUHKAN. Sang istri mulai bercerita. Selama dua belas tahun dirinya pendarahan rahim. Dipikirnya ada kelainan dengan si rahim. Lalu setahun yang lalu ia mulai mimisan dan periksa ke dokter THT. Semua masalah rahim dan THT diteliti oleh dokter. Hasilnya : tidak ada masalah! Setelah diamati dan di scan lebih lanjut. Ditemukan hal yang mengerikan: sang istri ternyata mengidap tumor otak di kepalanya dengan besaran tumor itu sudah mencapai 5 cm. 

Sampai disini mendengar ceritanya saja saya sudah kebingungan dan ketakutan. Waduh, kok bisa? Ibu ini terlihat segar, sehat, tak kurang suatu apa. Bahkan waktu mengobrol si bapak dan ibu karena baru pulang kantor terlihat rapi. Seolah mereka baru saja dinner di suatu tempat kemudian pulang ke rumah untuk menerima kunjungan 'wartawan palsu' yaitu saya. Yang mana udah bertamu dikasi sajian macem-macem termasuk teh manis dan aneka kue-kue. Saya yang mewawancara merasa miris, ngeri, takut, stress dan tidak percaya! Keluarga segini happy-nya ternyata nasib sang istri/ibu ada pada seutas benang tipis. Anytime. Bisa saja ada sesuatu yang akan terjadi! Si ibu bercerita bahwa setahun yang lalu tumornya sudah diangkat sebesar 10%, sisanya oleh dokter dimatikan selnya. Sehingga diharapkan akan mengecil. Sudah setahun mereka belum memotret lagi. Belum melihat lagi bagaimana perkembangan tumor yang ada di kepala ibu. Sambil bercerita si ibu selalu tersenyum. Sementara si Bapa terdiam karena mungkin tak ingin menambah kesedihan hati. 

Si Ibu lalu menceritakan bahwa suaminya melakukan hampir semua pekerjaan rumah-tangga. Karena ibu tidak sanggup untuk bekerja masak, membersihkan rumah dan sebagainya. Semua dilakukan oleh Bapak dibantu kedua anak lelakinya (tidak punya anak perempuan). Bapak bangunnya subuh, pagi buta untuk bisa sempat melakukan pekerjaan rumah tangga sebelum ke kantor. Saya yang mendengar melongo! Tampak jelas bahwa cobaan semacam ini justru semakin menguatkan dan mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Khususnya keadaan si ibu yang bisa saja sewaktu-waktu menjadi gawat. Tetapi ibu bercerita kepada saya bahwa dia tidak merasakan sakit atau apapun hanya merasa sering kelelahan dan tidak bertenaga. Bahkan ketika sanggup naik dan turun tangga baginya itu sudah sangat luar biasa. Saya makin sedih dan larut dalam kisah keluarga ini. Keluarga yang menyadari bahwa tidak ada yang lebih penting dari: cinta dan kasih sayang. Yang lain sudah tidak bisa dihargai apapun juga, ketika nyawa kita sudah pasti dalam genggaman Tuhan. Anytime!

Saya lalu mengerti kaidah SURGA/PARADISO di dunia. Ini bukan masalah menjadi kaya-raya, hidup mapan, punya kemewahan, pamer pergi ke segala penjuru dunia. Bukan itu. Surga menjadi ada ketika hati seseorang itu merasa damai. Tidak ada beban yang lebih berat. Semua sama. Menyadari semua orang akan menghadap Tuhan. Ketika seorang istri nasibnya sudah di ujung maut. Ketika seorang suami tidak malu mengerjakan pekerjaan rumah tangga demi istri yang dicintainya. Ketika anak-anak belajar bahwa harus siap jika sewaktu-waktu Mama tiada. Ngeri mendengar kisah mereka. Bahwa seperti itulah hidup yang dijalani. Damai dan bahagia walaupun maut dalam genggaman. Si ibu sama sekali tidak menangis ketika menceritakan penyakitnya. SAYA YANG PENGEN NANGIS! Perasaan saya campur-baur, sedih, haru, kasihan, bingung dan takut. Ibu itu bahagia! Kehidupan rumah-tangganya boleh dikata sempurna. HAL yang diinginkan banyak ORANG YANG SEHAT, tetapi menghabiskan waktu untuk menuntut, mencela dan benci pada pasangannya (mungkin). Tetapi ibu itu tidak marah kepada Tuhan. Padahal harusnya ia benci kepada Tuhan, tetapi tidak. Ia pasrah kepada kehendak Tuhan. Baru minggu lalu sahabat saya berkisah, "Mosok ada temanku menikah di hotel mewah, bagus sekali pernikahannya. Baru tiga bulan udah cerai! Itu nyicil biaya pernikahannya aja belun lunas,...piye sih?" SURGA-PARADISE-BAHAGIA itu ada dihati orang-orang yang sabar dan saling mencintai. Seperti suami yang justru semakin mencintai istri yang ia tahu mengidap penyakit sedemikian berat,... Seperti istri yang luar biasa bersyukur dan berterima-kasih untuk suami yang sedemikian baik.

NASKAH TULISAN SAYA SUDAH SELESAI. TETAPI KAMI TDK MENYEBUTKAN MASALAH PENYAKIT TERSEBUT ATAS PERMINTAAN YBS. BAHKAN MEREKA TIDAK MAU BERBAGI KESEDIHAN. YANG DIINGINKAN HANYA BERBAGI BAHAGIA.




No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.