Friday, January 27, 2012

Benang Kusut

Semasa kecil dan remaja, saya terbilang gadis yang tomboy. Atau demikianlah adanya saya merasakan diri sendiri. Saya tidak suka dan benci dengan segala sesuatu yang berbau kewanita-wanitaan. Saya benci menjahit. Saya tak suka menyetrika dan saya benci segala hal yang seakan-akan merupakan takdir wanita untuk melakukannya.

Akhir-akhir ini mungkin karena perubahan iklim dan cuaca, saya mulai melakukan sesuatu yang dahulu rasanya mustahil. Saya mulai menyukai bidang jahit-menjahit! Awalnya adalah salah seorang sahabat yang memperkenalkan pada saya tentang seni dan keindahan jahitan. Saya mulai mengagumi dan merasa tertantang untuk melakukannya.

Segala sesuatu yang berbau 'maskulin' sudah begitu sering saya lakukan. Saya lalu merasa 'kenyang'. Kenyang dan lelah akan segala sesuatu yang bersifat tak sabaran dan instant. Sekarang ini saya justru merasa tertantang untuk melakukan hal-hal yang berbau 'feminim' - segala yang mensyaratkan kesabaran dan kerapian. Saya merasa sudah cukup lama menjadi wanita yang kelaki-lakian. Perempuan yang emosional, mudah kesal dan marah tentang segala sesuatu.

Dalam melakukan jahit menjahit, saya belajar tentang kesabaran. Dimulai dengan belajar melakukan jahitan tusuk silang dan menghasilkan karya-karya yang membuat saya sendiri terkejut, karena tak percaya bahwa saya mampu melakukannya. Keyakinan saya makin kuat bahwa tidak ada yang tidak mampu, jika kita sungguh-sungguh berniat untuk melakukan sesuatu. Pasti bisa! Yang ada hanyalah orang yang tidak mau atau tidak tergerak. Mulut meneriakkan semangat namun kakinya tak beranjak.

Dari dunia jahit - menjahit saya seakan memperoleh inspirasi bahwa kesabaran adalah dasar atau inti dari hidup yang damai dan bahagia. Mengapa? Kesabaran adalah kemampuan tertinggi untuk mengendalikan diri dalam keadaan apapun juga. Sabar dalam bertutur dan terlebih sabar dalam bertindak. Jika kita sudah belajar sabar dari hal-hal yang kecil, niscaya kita akan lebih sabar dalam menghadapi hal-hal yang besar.

Dalam membuat karya seni jahitan tusuk silang, berulang kali saya membuat kesalahan. Dari salah menggunakan warna benang yang tidak sesuai instruksi. Salah menghitung banyaknya jahitan. Hingga salah menjahit di tempat yang tidak semestinya. Pokoknya segala tragedi benang kusut menimpa saya dalam melakukan kegemaran yang baru ini. Mengarah pada rasa stress! Hobby kok bikin stress??

Awalnya saya masih terbawa emosi lalu menggunting putus semua jahitan dan memulai lagi dari awal. Lalu saya mulai lagi dengan mencoba mempertahankan yang sudah ada namun membuat jahitan-jahitan baru dan menyesuaikan pola yang seharusnya. Lama - kelamaan saya coba menerima jika terjadi kesalahan saya biarkan. Saya justru rapikan dengan trik-trik sederhana agar kesalahan tersebut tidak terlihat sedemikian buruk dan fatal. Pendek kata kecuali seseorang sungguh iseng menghitung jumlah tusuk silang saya dan mencocokkanya dengan pola, takkan ada yang tahu jika saya sedikit melenceng dari pola.

Lama - lama saya menjadi sungguh mahir dan mampu menghitung, menempatkan warna dan mencari siasat agar hemat benang atau tidak bolak balik mengganti benang. Banyak hal sederhana yang kelihatannya tak perlu namun saya peroleh dari hobby baru, benang kusut ini. Semua problematika benang kusut dalam menjahit pada akhirnya hilang/musnah. Tak nampak sama sekali. Lewat! Yang terlihat hanyalah keindahan. Seperti itu barangkali kita menjalani hidup? Segala sesuatu yang ruwet dan tak mulus, pada akhirnya akan lewat. Menjadi masa lalu, menjadi pengalaman dan menjadi pelajaran. Kuncinya hanya : tekun dan sabar. Seperti menjahit! Anda mau coba?

Wednesday, January 4, 2012

Cerita Cinta Retak Adanya

Kebetulan ada teman-teman dari sebuah komunitas yang menyelenggarakan acara lomba penulisan di bulan Januari 2012 ini. Acaranya boleh terbilang sederhana yaitu acara bersama-sama melakukan komitmen untuk menulis setidaknya minimal 50.000 kata untuk dijadikan sebuah buku novel. Lomba ini tidak memberikan hadiah atau imbalan apapun selain dari ketekunan untuk menulis dan kekuatan untuk mengalahkan rasa malas.

Saya memilih judul 'Cerita Cinta Retak Adanya'. Judul ini sederhana dan sekaligus menarik bagi saya. Adakah cerita cinta yang sempurna dan berakhir bahagia selamanya?Bicara soal cinta. Minggu lalu saya berlibur ke sebuah kota dan bertemu dengan beberapa teman lama. Diantaranya bertemu seseorang yang pernah sangat mengesankan bagi saya.

Diluar dugaan, pertemuan kami terasa menyenangkan. Puluhan tahun tak pernah terjadi suatu pertemuan apapun. Pada akhirnya kami sempat bercakap-cakap dan minum kopi bersama di lobby hotel. Pertemuan lebih terasa sebagai perjumpaan dua sahabat lama yang sibuk bertukar cerita tentang keluarga, hobby dan pekerjaan kami masing-masing. Jauh dari istilah pertemuan rahasia atau pertemuan tak pantas lainnya. Kami bertemu dan berbincang sekedar sebagai teman lama dan keluarga kami mengerti.

Mencintai tanpa perlu memiliki pernah menjadi slogan kosong yang tak saya pahami. Terkesan sebagai kata-kata artificial dari seorang pecundang yang tak berhasil memiliki orang yang dicintainya. Belasan tahun menikah dan pertambahan usia sejak masa remaja membuat saya mengerti. Tidak semua cerita cinta dapat diakhiri dengan kebersamaan, pernikahan ataupun kutuk bahagia happily everafter. Itu hanya ada dalam negeri dongeng. Menikah sebaiknya atas dasar cinta, tapi mencintai tak harus diakhiri dengan pernikahan. Ada banyak faktor lain yang dipertimbangkan. Misalnya saja faktor keluarga, keyakinan, karakter dst. 

Cerita cinta retak adanya akan menjadi sempurna dengan lahirnya anak-anak yang baik. Terdidik, terawat dan teredukasi dengan baik. Anak -anak yang lahir, besar dan muncul sebagai manusia masa depan adalah simbol kisah cinta yang sempurna. Kisah cinta yang sesungguhnya karena peran ayah dan ibu yang mampu menahan diri serta ego. Demi kebahagiaan anak-anaknya. Namun, bagaimanapun juga - ego juga memiliki batas. Jika suatu batas sudah terlanggar, pasti cinta itu lama-lama akan terkelupas lepas. 

Barangkali pernikahan dapat diibaratkan dengan naik sepeda tandem? Dua pasang kaki menggenjot bersama menuju ke suatu arah dan menjaga keseimbangan agar tak terjatuh?? Lalu cinta itu apa? Cinta adalah bersepeda! Ha-ha....

Friday, December 16, 2011

Jalan Setapak Tembus Hutan

Pagi ini saya terbangun dan entah mengapa langsung berkeinginan memutar lagu kesayangan masa remaja dulu, I love chopin. Anda tahu bukan, irama musik kadangkala seolah membawa kita ke suatu tempat yang belum pernah kita ketahui dan jelajahi sebelumnya. Irama semacam itu seolah membangunkan suatu kesadaran dalam diri, ada sebuah panggilan yang mengundang. Apa istilahnya ya? Drifting away? Senang rasanya perasaan kita terbang terbawa pada angan dan cita-cita, hal-hal yang selama ini belum kesampaian. Dan dengan alunan lagu piano itu imajinasi melayang....seandainya...Remember that piano, so delightful unusual. That classic sensation, sentimental confusion,...

Bertahun-tahun ini ada hal berat yang sangat mengganjal. Sepertinya saya tinggal di suatu 'negara' dalam 'negara'. Saya bekerja di sebuah institusi asing yang cukup ternama dan bonafide. Selama bekerja disitu disitu, pengalaman yang ada tidak banyak membantu saya untuk memperluas skills kerja tapi lebih kepada skills untuk managing people. Berkomunikasi dan berhubungan dengan berbagai jenis manusia. Menghadapi orang dari berbagai bangsa termasuk bangsa sendiri. Setiap hari selama belasan tahun, saya menghadapi orang Amerika, Eropah, Korea dan Jepang. Yang culture-nya berbeda dan mengedepankan sikap individualistis. Belum lagi harus bersosialisasi dengan rekan sekerja yang mayoritas adalah bangsa sendiri dengan trademark unggah-ungguh-nya yang tak boleh dilupakan. It's complicated!

Bekerja disitu adalah heaven bagi sebagian besar rekan kerja. Pagi-sore dijemput dengan mobil mazda atau kijang innova. Liburnya lama, bisa 18 hari setahun. Banyak acara semacam training/ pesta yang bagus-bagus hampir tiap tahunnya. Pokoknya membuat siapapun yang tidak waspada akan hanyut dalam kenikmatan menghamba nine to five. Hidup rutin yang diarahkan sesuai kehendak perusahaan. Karyawan tugasnya hanya bekerja sesuai perintah dan bersyukur. Apakah kami robot?

Jika saya bekerja di tempat lain mungkin akan lebih sengsara. Tapi lima belas tahun kemudian setidaknya saya tidak akan terus duduk di posisi yang sama. Seharusnya ada penilaian yang lebih layak untuk kinerja masing-masing karyawan. Jika baik ada reward, jika kurang harus ada kritik membangun untuk memperbaiki kinerja. Jika salah tentu juga harus ada punishment. Dalam perusahaan 'negara' dalam 'negara' semua orang disamakan prestasi kerjanya. Naik gaji sama rata, dapat roti juga dibagi sama rata.Utopia yang menjebak, serba nyaman dan damai. Macan kumbang dan kucing kampung semua memperoleh kaleng sarden yang sama.

Ujung kisah ini adalah 'keluar dari zona nyaman'. That's true. Dan saya berpikir untuk keluar dari paradise ini, dari surga ini. Saya berpikir untuk melakukan sesuatu yang berbeda dan tidak biasa. Saya berpikir sebelum maut menjemput apakah saya hanya akan melakukan perihal itu-itu saja?? Rasanya saya bukan orang semacam itu. Jadi angan saya melayang jauh....dan teramat jauh. Bagaimana jika seandainya saya resign dan keluar dari utopia yang saya jalani selama belasan tahun ini? Banyak pengalaman lain yang ingin saya rasakan,...

Semua teman dekat mengomentari dengan sebutan nekad, gila, tidak berpikir panjang. Dengan keterbatasan usia mau melamar kerja dimana lagi? Lagipula saya sudah terlalu lama tinggal di tempat itu. Ya, tapi saya membiarkan imajinasi saya melayang jauh. Ada hal-hal yang menarik di tempat jauh jika kita lewat menembus hutan dan berjalan di jalan setapak. Ketimbang duduk manis dan selalu berdiam di tempat. Pernikahan saya dengan pekerjaan di kantor bahkan terasa lebih lama dibanding pernikahan dengan suami. Tetapi pekerjaan bukan manusia, pun sesuatu yang saya suka untuk melakukannya. Selalu ada suara dalam diri, go...and find your own way..! I think I will go on to follow that voice,...


Rainy days never say goodbye

To desire when we are together
Rainy days growing in your eyes
Tell me where's my way

Imagine your face 
In a sunshine reflection
A vision of blue skies
Forever distractions